Malang – Selama dua hari, dimulai dari hari jumat hingga sabtu (06-07/9/19) siswa kelas X SMA N 3 Mojokerto mengikuti pendidikan karakter di Pusat Pendidikan Arteleri Pertahanan Udara (ARHANUD) Malang.

Di ARHANUD, siswa dididik oleh 12 tentara pendamping. Mereka mendampingi siswa selama dua puluh empat jam. Dari awal pembukaan pada hari jumat hingga akhir penutupan.

Selama pendidikan siswa mengikuti kehidupan ala tentara. Mulai dari upacara, baris berbaris, hingga cara makan dan tidurnya.

“Kami mendidik anak disini agar mereka tahu bagaimana cara melakukan sesuatu secara benar. Misalnya tata cara upacara. Cara baris berbaris dan lain lain” tutur Edi Cahyono, Pelatih di Pusdik Arhanud.

Selain itu, siswa juga diberi bekal tentang Nasionalisme Kebangsaan.

“Seperti semalam, anak anak mendapat bekal dari Dosen disini, tentang materi materi Kebangsaan. Mungkin seperti PMP zaman dahulu. Ini materi penting. Agar anak faham bagaimana menjadi warga yang baik dan juga mampu mengidentifikasi bahaya bahaya idiologi yang ingin menggantikan idiologi negara”imbuh Edi Cahyono.

Meskipun demikian, ternyata tidak semua siswa mampu mengikuti pelatihan dengan sempurna. Beberapa anak ada yang sakit tidak kuat melanjutkan kegiatan pelatihan yang banyak menguras energi fisik.

Seperti Fitra, siswa kelas X Mipa 5, dibeberapa kegiatan tidak bisa mengikuti kegiatan. Perutnya sakit tidak bisa dikompromikan.

“Kegiatannya banyak. Tidurnya juga sebentar. Hingga saat sarapan, saya tidak bisa banyak makan. Dan tiba tiba perut saya sakit. Sehingga saya tidak kuat melanjutkan kegiatan” ujar Fitra.

Meskipun demikian, fitra merasa senang. Sebab katanya, di ARHANUD ini, banyak diajarkan tentang kekompakan, kerjasama dan kedisiplinan.

“Meskipun kegiatannya banyak dan pelatihnya keras, tetapi saya merasa senang. Sebab kami diajarkan kekompakan, kerjasama, dan lain lain” lanjut Fitra.

Diakui sendiri oleh Edi Cahyono, selama pelatihan, siswa memang dididik agak keras, tetapi tidak melupakan mengajak para siswa untuk tertawa tawa bahagia.

“Sebetulnya waktu dua hari itu masih kurang. Kami memilih materi materi yang tepat. Kadang kami menyampaikan secara keras. Tetapi juga tidak melupakan guyon guyon kepada mereka. Tetapi kalau terjebak diguyon guyon mereka akan kembali ke karakter semula, maka kita press lagi. Agar mereka mengikuti kegiatan secara disiplin” tutur tentara yang masih terlihat muda itu. (Isno)

 

Categories: Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *